Rancangan Sholat Malang 25 April 2020 / 2 Ramadhan 1441 H

–>

SuaraJatim. id porakporanda Jadwal Sholat Udi 25 April 2020 / 2 Ramadhan 1441 H

Jadwal sholat hari ini di bulan puasa. Program sholat Malang Sabtu 25 April 2020 / 2 Ramadhan 1441 H. Tiap umat Islam wajib melaksanakan sholat lima waktu.

Yaitu subuh, dzuhur, asar, maghrib, dan isya. Kewajiban masing-masing sholat itu sudah terpenuhi manakala sudah ditunaikan utama kali saja menurut cara yang diabsahkan syariat.

Jadwal sholat hari tersebut:

  • Imsak 04: 05
  • Subuh 04: 15
  • Terbit 05: 28
  • Dhuha 05: 56
  • Dzuhur 11: 31
  • Ashar 14: 51
  • Maghrib 17: 26
  • Isya 18: 37

Ustadz M. Ali Zainal Abidin dari Pengajar di Jambar Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember seperti dilansir dari NU. or. id, menjelaskan salah satu dari sholat fardhu yang telah dijalankan oleh seseorang diulang kembali, Maka status sholatnya sudah bukan menjadi wajib, tapi berubah menjadi ibadah sunnah. Anjuran mengulang kembali sholat fardhu berdasarkan salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Yazid bin al-Aswad:

“Kami sholat Subuh bersama Rasulullah saw shallallahu ‘alaihi wa sallam di Tanah Mina. ”

Lalu datang besar orang lelaki, mereka berdiam dalam atas kendaraan mereka (tidak mengikuti sholat). Lalu Rasulullah memerintahkan buat memanggil mereka berdua. Dua orang lelaki itu pun terlihat gemetar ketakutan, Rasulullah berkata pada dua lelaki tersebut:

“Mengapa engkau tidak ikut sholat bersama orang-orang? Bukankah engkau karakter muslim? ”

“Benar wahai Rasulullah, kami telah melaksanakan sholat di wadah kami, ” jawab dua adam tersebut.

Rasulullah lalu berkata: “Jika kalian sudah sholat di tempat kalian, lalu kalian mendatangi imam (sholat jamaah), maka ikutlah sholat bersamanya, sesungguhnya sholat yang kalian kerjakan adalah sholat sunnah. ” (HR. Baihaqi).

Namun mengulang kembali jadwal sholat hari ini atau sholat fardhu ini tidak selamanya merupakan sebuah anjaran yang disunnahkan, sebab ada berbagai ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi, agar seseorang dapat mengulang kembali sholatnya.

Mengulang kembali sholat atau yang biasa dikenal dengan istilah I’adah, hanya disunnahkan tatkala dalam sholat yang pertama ada sebuah kekurangan atau kecacatan di kesempurnaan sholat yang tidak datang berakibat pada batalnya sholat tersebut.

Misalkan seperti sholat pertama dilakukan tak dalam keadaan berjamaah, sholat prima tidak dilakukan di masjid serta lain sebagainya. Sehingga sholat fardhu yang diulang kembali harus lebih sempurna (akmal) jika dibandingkan secara sholat yang pertama. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam teks al-Fiqh al-Manhaji:

“Adapun i’adah adalah ketika seseorang telah melaksanakan sholat fardhu, lalu melihat terdapat suatu aib, kecacatan dalam etika sholat atau kesempurnaan sholat, kemudian ia mengulang kembali sholatnya dengan pelaksanaan yang tidak terkandung kekurangan dan kekurangan. Hukum mengulang kembali sholat di keadaan demikian adalah sunnah. Misalnya seperti seseorang yang telah melaksanakan sholat dengan sendirian, lalu dia menemukan orang lain yang melangsungkan sholat secara berjamaah, maka dia disunnahkan untuk mengulang kembali sholatnya secara jamaah. Sholat fardhu baginya adalah tetap sholat yang perdana, dan sholat kedua menjadi sholat sunnah” (Dr. Musthofa al-Khin, Dr. Musthofa al-Bugha, Ali as-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji, juz 1, hal. 74).

Selain keyakinan di atas, terdapat pula lima persyaratan lain yang harus dipenuhi untuk dianjurkannya mengulang kembali sholat fardhu, kelima syarat tersebut disebutkan dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin berikut ini:

“Kesimpulan yang dijelaskan para-para ulama’ bahwa mengulangi sholat dihukumi sunnah dengan tiga syarat. Baru, sholat i’adah dilaksanakan pada zaman sholat. Kedua, mengulang sholat tidak melebihi dari sekali. Ketiga, dilaksanakan dengan niat fardhu. Dan masih terdapat syarat lain (syarat keempat) yakni sholat yang diulangi adalah sholat ada’ (sholat pada masa itu) bukan sholat qadha’. Serta syarat kelima, sholat yang mula-mula adalah sholat yang sah, walaupun masih butuh untuk diqadla’, serupa halnya sholatnya orang yang bersuci dengan tayamum karena faktor kedinginan. ” (Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 2, hal. 9).

Jika lupa satu dari berbagai persyaratan dengan dijelaskan di atas tidak terpenuhi, maka mengulang kembali sholat fardhu (jadwal sholat hari ini) menjelma tidak disunnahkan untuk dilakukan:

“Jika di dalam sholat yang pertama tidak ada suatu kecacatan atau kekurangan, & sholat yang diulangi tidak lebih sempurna dari sholat yang pertama, maka tidak disunnahkan untuk mengulangi sholat” (Dr. Musthofa al-Khin, Dr. Musthofa al-Bugha, Ali as-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji, juz 1, hal. 74).

Oleh karena itu secara umum dapat disimpulkan kalau terdapat enam persyaratan yang kudu dipenuhi dalam kesunnahan mengulang kembali sholat fardhu yang harus dikerjakan.

Pertama, sholat kedua harus lebih sempurna dari sholat yang pertama.

Kedua, sholat i’adah harus dilakukan pada zaman sholat tersebut masih ada, sehingga tidak disunnahkan mengulang kembali sholat fardhu tatkala waktu sholat itu telah habis. Misalkan seperti i’adah sholat Zuhur di waktu ashar, maka hal tersebut tidak dianjurkan.

Ketiga, mengulang sholat hanya satu kali saja.

Keempat, sholat i’adah meski sejatinya merupakan sholat sunnah, tapi pelafalan niatnya harus dengan niat fardhu. Oleh sebab itu dalam lafal niat sholat i’adah sama persis dengan niat sholat fardhu yang dilakukan pertama, yakni sama-sama wajib menyertakan lafal “fardha”, misalkan dalam sholat Zuhur niat yang diucapkan adalah ‘Ushalli fardha adz-dzuhri arba’a raka’atin mustaqbil al-qiblati fardhan lillahi ta’ala’.

Kelima, sholat yang diulang adalah sholat ada’ bukan sholat qadha’, sehingga tidak dianjurkan mengulang sholat yang berstatus sebagai sholat qadha’, seperti ketika seseorang melaksanakan sholat subuh terlalu terang, maka ia cukup melakukannya utama kali saja, sebab tidak dianjurkan baginya untuk mengulang kembali sholat subuh tersebut.

Keenam, sholat fardhu dengan pertama harus berstatus sebagai sholat yang sah, maka ketika pada sholat yang pertama ternyata diketahui terdapat hal yang membatalkan, maka wajib baginya mengulang kembali sholat tersebut bukan berstatus sebagai sholat i’adah yang sunnah, tapi jadi sholat fardhu yang wajib. Wallahu a’lam.