Puak Laskar FPI Berharap TPF Bukan karena Tak Percaya Propam Polri

Suara. com – Kuasa hukum tim enam laskar FPI yang ditembak mati polisi, Achmad Michdan, meminta dukungan Lembaga Perlindungan Saksi serta Korban.

“LPSK, lembaga kesaksian ini untuk bisa mengamankan. Misalnya di kedudukan kemudian pihak-pihak lain yang terasa bahwa bisa mengungkap terhadap kasus ini, ” kata Achmad Michan di DPR, Kamis (10/12/2020).

Achmad Michdan juga meminta Komisi III membentuk tim independen pencari fakta kasus penembakan itu.

Tetapi dia menekankan permintaan tersebut bukan lantaran keluarga korban tidak percaya dengan Mabes Polri dengan kini menangani kasus penembakan terhadap laskar yang sedang mengawal Kekasih Rizieq Shihab.

Baca Juga: Kesaksian Tanggungan Para Laskar FPI: Jidat Biru, Kepala Belakang Bolong

“Bukan kita tidak percaya Propam misalnya. Tapi kan yang menjadi masalah saat ini problem antara kepolisian dengan anggota masyarakat. Oleh karena itu tetap lembaga yang lebih netral yang bisa memberikan keterangan yang faktual transparan, ” kata Achmad Michdan dari tim pembela muslim.

Dia berharap tim independen melibatkan banyak bagian, tetapi harus yang netral.

“Banyak pihak yang bisa diajak, misalnya dibanding Ombudsman, ada LPSK, ada Komnas HAM, ada tokoh-tokoh masyarakat. Nah itu saya pikir begitu, ” kata Achmad.

Sebelumnya, LPSK sudah menyatakan siap memberikan perlindungan kepada korban dan saksi yang mengetahui peristiwa penembakan.

“Korban maupun saksi yang memiliki keterangan penting dan khawatir adanya kerawanan, LPSK siap beri perlindungan, ” ujar Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu.

Baca Juga: Keluarga Para-para Laskar FPI yang Ditembak Asal Polisi Beri Kesaksian di DPR

Edwin mengatakan proses hukum dengan profesional dan akuntabel hendaknya dikedepankan dalam menyelesaikan kasus ini.

Menurut dia, penegakan hukum atas peristiwa tersebut penting disegerakan untuk menghindari terjadinya opini liar di tengah jemaah.

Edwin berpandangan, peristiwa itu terjadi di ruang publik sehingga sangat dimungkinkan adanya saksi yang mengetahui, tercatat dari anggota FPI yang mengiakan menjadi korban.

“Faktor keamanan dan terhindar dari ancaman menjadi hal penting bagi mereka untuk berikan tanda, ” kata dia.

Tadi, keluarga enam laskar FPI yang menjadi target penembakan oleh polisi di tiang tol Jakarta – Cikampek muncul ke Komisi III DPR buat menyampaikan aspirasi.

Perwakilan keluarga yang datang, antara lain kakak Kadhavi (Anandra), ayah Lutfil Hakim (Daynuri), paman Andi Oktiawan (Umar), dan kakak M. Reza (Septi).

Daynuri menjelaskan pada Kamis (3/12/2020), anaknya meminta izin untuk mengawal Habib Rizieq Shihab.

Pada Minggu (6/12/2020), pukul 14. 00 WIB, dia masih berkomunikasi dengan Lutfil. Lutfil ketika itu mengatakan belum bisa pulang dan meminta orangtua tidak khawatir dengan kondisi kesehatannya.

Setelah itu dia tidak komunikasi dengan Lutfil lagi.

Penembakan terjadi pada Senin (7/12/2020), dini hari. Polisi menyatakan terpaksa menembak karena laskar FPI menyerang terlebih dahulu dengan senjata api.

Tetapi keterangan tersebut dibantah sebab Daynuri.

“Anak saya tidak membawa senjata apapun, pisau saja tidak makin pistol. Lalu Senin sore (7/12) saya dapat kabar dari tetangga bahwa anak saya termasuk dengan diculik, ” kata Daynuri.

Ia menceritakan saat memandikan jenazah Lutfil, terdapat 4 luka bekas tembakan di depan kiri hingga tembus ke arah belakang, pipi bengkak, dan punggung gosong seperti luka terbakar.

Tengah Umar bercerita dia pada Sabtu (5/12/2020), dia menghubungi keponakannya, Andi, dan dikatakan kondisinya sehat serta masih mendampingi Habib Rizieq.

Setelah itu, dia tidak mendengar lagi informasi keponakannya hingga mendapatkan informasi kalau Andi telah meninggal dunia.

“Senin (7/12) siang saya dapat kabar, sebenarnya saya tidak tanggapi karena belum dapat gambar atau foto. Awut-awutan Selasa (8/12) terjadi penyerahan jenazah Andi, saya lihat kenapa kondisinya seperti itu. Sadis, ” ujarnya.

Umar menjelaskan di tubuh keponakannya ada sekitar empat luka bekas tembakan dan dia menduga keponakannya memperoleh tembakan dari jarak dekat, mata memar, dan kepala belakang berlubang.

Sedangkan Anandra menjelaskan, keluarganya belum mendapatkan barang-barang pribadi Kadhavi, di antaranya telepon genggam, tas, dan kampil.

Itu sudah menanyakan kepada pihak dengan berwenang, namun barang-barang Kadhavi belum diserahkan. Ponsel Kadhavi, kata Ananda, antara lain berisi foto-foto keluarga yang diambil ketika Kadhavi masih hidup.

Ia menceritakan, saat ayahnya yang membersihkan jenazah Kadhavi, di tubuh Kadhavi ditemukan tiga luka tembakan pada dada, di punggung terdapat luka seperti diseret, dan jidat berupa biru.

Dalam rapat dengar pendapat tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond J. Mahesa mengatakan, “kami ingin mendengarkan keterangan pihak anak korban, karena salah satu pacar Komisi III DPR adalah kepolisian. Kami ingin dengar harapan puak korban kepada Komisi III DPR. ”

Mahesa mengatakan, RDPU tidak mendalam pada ranah apakah peristiwa itu terjadi tembak-menembak seperti yang disampaikan polisi atau kasus penculikan. Sebab itu menurut dia, dalam RDPU tersebut Komisi III DPR ingin mendengarkan harapan para keluarga objek.

Pada RDPU, anggota Komisi III Sarifuddin Sudding mengatakan akan menindaklanjuti harapan keluarga korban agar keadilan mampu ditegakkan dalam peristiwa tersebut.

Sudding kendati sempat menanyakan terkait kondisi jenazah para korban yang telah diserahkan kepada pihak keluarga lalu telah dimakamkan beberapa hari yang lulus.

“Saya ingin menanyakan kapan mendengar informasi bahwa keluarga anda meninggal dunia, lalu kondisi jenazah bagaimana era diserahkan kepada keluarga, ” cakap dia.