New Normal Ala Jokowi, Tata Jalan Ibadah sampai Masuk Restoran

–>

Suara. com – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan protokol dalam bertemu “new normal” atau situasi normal baru di tengah langkah menekan infeksi Covid-19, mulai dari metode cara beribadah sampai langkah menghunjam ke restoran.

Hal ini dikatakan Gajah Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, usai rapat dengan Presiden Joko Widodo, Senin (18/05).

“Jadi nanti aka nada protocol bagaimana di restoran, bagaimana ibadah, nanti meneteri agama akan menyusun itu, protokol bagaimana datang pada acara yang pengunjung relatif penuh, dan sebagainya, nanti akan diatur secara detil dan itu kudu dipatuhi, ” kata Muhajir.

“Itulah dengan dimaksud dengan new normal, nanti boleh tetap salat Jumat berjamaah tapi beda salat Jumat berjamaahnya dengan sebelum ada new wajar ini, ” tambahnya.

Terkait dengan restoran, Muhajir mengatakan “Misalnya ketika sudah dibolehkan restoran buka maka tidak berarti restoran buka seperti pra ada Covid. Itulah disebut new normal, kehidupan normal baru, harus mematuhi protokol tentang bagaimana datan atau makan di resturan & restoran harus mematuhi protokol itu. ”

Sebelumnya, Presiden Jokowi dalam rapat terbatas melalui telekonferensi, meminta bangsa agar bersiap menghadapi kondisi lazim baru di tengah pandemi Covid-19.

Menjelaskan pernyataan Presiden Jokowi itu, Muhajir mengatakan upaya ini dilakukan untuk memulihkan produktivitas masyarakat.

“Di satu sisi juga wabah Covid-19 tetap mampu dikendalikan, tetap ditekan, hingga nanti antiklimaksnya selesai, terutama setelah ditemukan vaksin, ” jelas Muhadjir.

Virus corona: WHO akan ditanyai tentang caranya tangani pandemi Virus corona: ‘Kemungkinan Covid-19 tak akan pernah hilang’, kata WHO Virus corona: WHO peringatkan pandemi Covid-19 ‘meningkat pesat’

Untuk itulah, masih menurut Muhadjir, Presiden Jokowi meminta ada kupasan yang cermat, terukur serta membabitkan banyak pihak untuk mempersiapkan tahap-tahap pengurangan pembatasan sosial (PSBB).

Pada Jumat (15/05) lalu, Presiden Joko Widodo juga sudah menyinggung tentang pentingnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi barang apa yang disebutnya sebagai “tatatan kesibukan baru”.

“Kebutuhan kita sudah pasti berubah buat mengatasi risiko wabah ini. Tersebut keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new lazim atau tatanan kehidupan baru, ” katanya.

Dalam pengantar sebelum rapat terpatok, Senin (18/05), Presiden Joko Widodo mengaku bahwa pemerintah sedang merancang skenario pelonggaran PSBB.

“Yang kita siapkan baru rencana atau ringkasan pelonggaran yang akan diputuskan sesudah timing yang tepat dan melihat fakta, data-data di lapangan, ” kata Presiden Jokowi.

“Biar semua sahih. Kita harus hati-hati jangan alpa kita memutuskan, ” tambahnya.

“Saya tegaskan belum ada kebijakan pelonggaran PSBB. Karena muncul, keliru di klub bahwa pemerintah mulai melonggarkan PSBB. Belum. Belum ada kebijakan pelonggaran, ” katanya.

Kaya apa protokol WHO tentang ‘The New Normal’?

Sebelumnya, Pola Kesehatan Dunia (WHO) sudah membuat protokol transisi menuju the new normal atau tata kehidupan terakhir sebelum vaksin Covid-19 belum ditemukan.

“Kompleksitas dan ketidakpastian ada di depan, yang berarti bahwa kita mengikuti periode di mana kita jadi perlu menyesuaikan langkah dengan lekas, ” kata Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P. Kluge dikutip dari dokumen resmi di situs WHO, Senin (18/5/2020).

Menurut WHO, sebelum langkah pelonggaran pembatasan untuk menuju ‘the new normal’ diterapkan, pemerintah mesti membuktikan bahwa transmisi virus Corona sudah dikendalikan.

Pelonggaran pembatasan, demikian WHO, harus dikerjakan secara bertahap dan otoritas terkait diminta terus mengevaluasi kebijakannya.

Syarat yang lain, lanjutnya, kapasitas sistem kesehatan umum – diantaranya rumah sakit awut-awutan harus tersedia untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien COVID-19.

Disebutkan pula dalam adat itu, tata kehidupan baru bisa diterapkan apabila risiko penularan wabah sudah terkendali terutama di wadah dengan kerentanan tinggi.

Masing-masing negara pula diharuskan mampu menerapkan langkah pencegahan di tempat kerja, berupa renggang fisik, fasilitas cuci tangan & diikuti etika batuk atau bangkis.

Adat WHO juga menyebutkan setiap sikap menuju transisi ‘the new normal’ harus dipantau oleh otoritas kesehatan tubuh.

“Akhirnya, perilaku masing-masing warga akan memasang karakter virus. Ini akan membutuhkan ketekunan dan kesabaran, tidak tersedia jalur cepat untuk kembali wajar, ” demikian protokol WHO.