Menutup Ekonomi, Pemprov NTT Tolak RUU Larangan Minuman Beralkohol

Suara. com – Pemprov Nusa Tenggara Timur mengambil DPR mengkaji ulang rancangan undang-undang larangan minuman beralkohol. Mereka khawatir UU tersebut akan mematikan ekonomi perajin dan sosial budaya bangsa di provinsi berbasis kepulauan itu.

Kepala Biro Humas Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur, Marius A Jelamu, mengatakan bahwa minuman beralkohol tradisional di NTT seperti Sopi ialah salah satu komoditas ekonomi, sosial dan budaya.

“Sehingga kalau dilarang otomatis peristiwa ini akan mematikan ekonomi perajin dan mematahkan budaya masyarakat NTT yang selama ini secara mendarat temurun sering digunakan dalam adat istiadat, ” kata Marius di Kupang, Sabtu (14/11/2020).

Selain itu bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur khususnya di NTT selama tersebut menjadikan minuman alkohol tradisional sebagai pemasukan untuk peningkatan ekonomi.

Baca Juga: Pelarangan Sedang Dibahas DPR: Bagian Produsen Minuman Beralkohol Tumbang

Lantaran hasil jual minuman keras tersebut, para wali atau perajin minuman keras membiayai sekolah hingga pelajaran anak mereka sampai kemudian memperoleh pekerjaan yang layak.

“Sudah pasti pemerintah NTT menolak hal ini. Sebab karena itu perlu dikaji kembali. Jangan menyamakan budaya di daerah pulau Jawa dengan daerah Timur Indonesia, karena sudah pasti banyak perbedaannya, ” tutur dia.

Menurut Marius, pihaknya sama sekali tidak melarang jika ada undang-undang yang mendera para pemabuk apalagi yang mengerjakan kerusuhan akibat mabuk,

“Tetapi jika penjualan minuman beralkohol dilarang apakah pemerintah mau membiayai pendidikan anak-anak yang madrasah sampai kuliah? kemudian menggratiskan bea kesehatan dan memperbaiki infrastruktur asosiasi perajin minuman keras tradisional jenis sopi, ” tambah dia.

Mantan Kadis Pariwisata NTT itu meyakini kalau para perajin minuman alkohol pada wilayah Indonesia Timur khususnya dalam NTT sudah pasti akan menentang RUU itu, apalagi sampai disahkan.

Baca Juga: RUU Larangan Minuman Beralkohol Belum Tentu Berlanjut, Ini Penjelasan DPR

Seorang perajin minuman beralkohol asal Kabupaten Timor Tengah Memajukan yang sudah lama berprofesi sebagai perajin minuman beralkohol jenis Sopi
Felix Nesi justru menanggapi hal yang sama.

“Bagi masyarakat pada Timor, meminum minuman beralkohol tak hanya sebatas pada senang-senang serta mabuk, tetapi lebih dari itu mempunyai makna tersendiri yakni persahabatan dan saat upacara adat, ” tutur dia.

Menurut Felix selama tersebut minuman beralkohol sudah menjadi kebajikan lokal tersendiri dan menjadi penyambut para tamu yang datang ke suatu daerah. Oleh karena itu ia berharap perlu dilihat teristimewa RUU larangan minuman beralkohol tersebut. (Antara)