Jelas! Mahfud Beri Waktu 2 Pekan Bagi TGPF Ungkap Pembunuhan di Intan Jaya

–>

Suara. com – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md memberikan waktu tenggat hanya dua minggu untuk Awak Gabungan Pencari Fakta (TGPF) di menumpas peristiwa kekerasan dan penembakan di Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Taat Mahfud, dua pekan itu dirasa cukup untuk mengumpulkan fakta-fakta pembunuhan warga sipil dan anggota TNI.

Mahfud membaca, pada awalnya TGPF dirancang buat bekerja enam minggu hingga tiga bulan. Tetapi pihaknya ingin supaya kasus pembunuhan di Intan Jaya, Papua bisa cepat terkuak.

“Sehingga timnya menjadi gemuk. Biasanya tim membentuk tujuh orang. Ini kami bentuk 18 orang tim lapangan, 11 orang tim pengarahnya yang stand by di sini (Jakarta), ” ujar Mahfud melalui akun Instagram Kemenko Polhukam, Senin (5/10/2020).

Menurutnya tenggat waktu dua pekan cukup buat mengumpulkan fakta-fakta di lapangan. Pokok menurutnya proses hukum sendiri bakal berjalan di luar tugas TGPF.

“Jadi fakta-fakta lain di luar prosedur hukum yang perlu mereka hadapi, dilakukan pemeriksaan sampai sore. Tersebut enggak, ” ujarnya.

TGPF Intan Hebat dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Pemimpin bidang Politik, Hukum dan Kebahagiaan (Menko Polhukam) Nomor 83 Tarikh 2020. Keputusan itu ditandatangani Mahfud MD pada Kamis (1/10/2020).

“Tim ini diberi tugas mulai dari awal keluar SK sampai dua minggu ke depan untuk melaporkan hasil ke Kemenko Polhukam, ” kata Mahfud saat menjelaskan melalui virtual, Jumat (2/10/2020).

Berbagai unsur ikut terlibat pada TGPF tersebut, seperti dari Polri Kemenko Polhukam, Badan Intelijen Negara (BIN), Kantor Staf Kepresiden (KSP). Sedangkan khusus tim investigasi lapangan tokoh masyarakat Papua, tokoh pendidikan di Papua juga ikut dilibatkan.

Sebelumnya, pembunuhan kembali terjadi di Papua pada Sabtu (19/9/2020). Seorang resi bernama Yeremia Zanambani (68) terlihat tewas tertembak senjata api serta tertusuk di Kampung Bomba, Kawasan Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Menurut pendeta yang tidak bisa disebutkan namanya, Pendeta Yeremia ditemukan tidak bernyawa di kandang babi miliknya dan ditemukan oleh istrinya pada Minggu pagi.

“Sabtu sore dia ke kandang babi sama istrinya. Lulus istrinya pergi duluan, dia lestari di sana. Setelah itu, aku dengar Pendeta Yeremia ditembak oleh tentara. Dia juga ditusuk katanya, karena masih hidup setelah ditembak, ” jelasnya.

Kepolisian Daerah Papua menyelami Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) berperan dalam pembunuhan ini untuk memprovokasi perhatian global jelang sidang umum PBB yang akan digelar di dalam 22-29 September 2020.

Pendeta Yeremia menjadi korban keempat setelah kejadian dengan dilakukan KKB beberapa hari sebelumnya.

Korban bertanda Laode Anas (34) ditemukan tersentuh tembakan di lengan kanan, serta Fatur Rahman (23) mengalami luka tembak di perut dan luka sayatan senjata tajam di dahi dan hidung.

Kedua korban ditemukan di lokasi yang sama dan di dalam waktu yang berdekatan di Permata Jaya pada Senin (14/9/2020).

Korban kemudian merupakan Babinsa Koramil Persiapa Persiapan Hitadipa Pratu Dwi Akbar Utomo yang mengalami luka tembak, Serka Sahlan, dan warga sipil, Bahdawi.

Jatuhnya korban-korban tersebut disebabkan oleh gerak laku KKB yang dilakukan di Negeri Bilogai, Distrik Sugapa pada Kamis (17/9/2020).