Buruk di Area Sakral, Cerita Rahasia Sejoli di Candi Cetho Berujung Tragis

Pengunjung beraktivitas dalam kawasan Candi Cetho di Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu, (21/10/2015). awut-awutan (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

Cerita rahasia pasangan kekasih yang mesum di Candi Cetho ini pun sudah miris, khususnya bagi pihak perempuan.

SuaraJogja. id – Dikenal sebagai tempat yang sakral, tersedia banyak cerita yang tersimpan pada balik Candi Cetho, yang terletak di Jenawi, Karanganyar, Jawa Sedang. Salah satu yang masih diingat masyarakat hingga sekarang adalah rencana misteri tentang sepasang kekasih yang nekat berbuat mesum hingga berujung tragis.

Dalam unggahannya di Instagram, Minggu (11/10/2020), pengelola akun @misterisolo mencuraikan, ada sejoli yang nekat menghapuskan hasrat seksual di area candi.

Meski begitu, keduanya berhasil pulang secara selamat setelahnya.

Namun cerita tak berakhir di sini. Setibanya di rumah masing-masing, mereka mengalami kejadian yang mengerikan.

“Meskipun bisa pulang dengan selamat namun kedua sejoli itu menjalani hal yang mengerikan ketika berada sampai dirumah. Si laki-laki tiba-tiba pingsan dalam waktu yang sangat lama sedangkan si perempuan meronta seperti orang kesurupan, ” terang pengelola akun Instagram @misterisolo, seperti dikutip dari SoloPos. com jaringan Suara. com.

Karena tidak bisa diselesaikan secara medis, akhirnya pihak keluarga memanggil paranormal untuk mengetahui penyebab cocok kekasih ini kesurupan dan kolaps.

Bersandarkan cerita misteri unggahan @misterisolo tadi, para paranormal menyarankan mereka untuk kembali ke Candi Cetho serta meminta maaf.

Pihak lelaki pun bakal, tapi berbeda dengan pihak hawa, dia enggan kembali ke Candi Cetho karena menganggapnya takhayul belaka.

“Namun hanya keluarga dari si lelaki yang bersedia untuk kembali ke candi ini untuk mengambil maaf sedangkan keluarga sang hawa tidak ingin kembali. Beberapa bukti mengatakan alasan ketidakinginan keluarga si perempuan untuk kembali ke candi Cetho dalam beberapa versi, ” ungkap @misterisolo.

“Ada yang mengatakan tentang ketidakpercayaan tanggungan menganggap tahayul, prinsip keluarga yang sangat agamis, sampai rasa malu terhadap apa yang dilakukan sebab sang anak di kala itu, ” tambahnya.